5 Abad Kesultanan Banten Dan Semangat Geger Cilegon 1888.

Cilegon CBB.COM

Kejayaan dan sekaligus kehancuran kesultanan Banten ini secara umum nyaris terabaikan dikalangan masyarakat Banten dan sekitarnya. Padahal Banten menyimpan berbagai peristiwa sejarah yang sangat mencengangkan.

Hal ini didapat dalam satu kesempatan silaturahmi ke Yayasan Pesantren Al-furqan, di Tegal Cabe, terungkap adanya rencana peringatan 500 Tahun Kesultanan Banten.Senin (10/02-2025).

Ketua Yayasan Al-Furqon, H. Lukman Harun terlihat sangat bersemangat untuk mensukseskan acara tersebut, bahkan sempat menelepon Ketua “Peringatan 500 Tahun Kesultanan Banten”, Drs. KH. Ma’mun Muzaki, serta menyarankan agar peristiwa sejarah Geger Cilegon 1888 dapat diangkat dan dimasukan sebagai salah satu bagian dari acara didalamnya.

Menurut Lukman Harun, rencana pelaksanaannya akan diselenggarakan di kawasan Banten Lama pada bulan Maret 2025 mendatang.

Setelah pembicaraan lewat telpon antara Ustadz Lukman Harun dengan KH.Ma’mun Muzaki berakhir, kemudian Lukman Harun memerintahkan agar Bambang Irawan (penulis Buku Geger Cilegon 1888), yang pada saat itu ada di lokasi, untuk segera menemui KH. Ma’mun Muzaki.

Menurut Bambang Irawan, bahwa peristiwa Geger Cilegon 1888 itu adalah merupakan sebuah rangkaian kejadian atau ekses dari kehancuran kesultanan Banten. Jadi peristiwa sejarah Geger Cilegon itu sangat erat kaitannya dengan kesultanan Banten.

Menurut Bambang, bahwa Ustadz Lukman Harun itu adalah merupakan salah seorang keturunan pejuang Geger Cilegon, tapi karena ada amanat untuk merahasiakan, maka beliau tidak pernah mengaku-ngaku sebagai anak keturunan pejuang Geger Cilegon 1888 sampai saat ini.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa Pimpinan Pondok Pesantren Al-Furqon itu sebenarnya mengalir darah pejuang Geger Cilegon, sekalipun Ustadz Lukman belum menyampaikannya secara khusus. Tentu saja Bambang Irawan mempunyai dasar yang kuat atas pernyataannya itu, dan dilain kesempatan akan kita korek lebih dalam lagi.

SEKILAS TENTANG SEJARAH GEGER CILEGON 1888.

Jalannya Perang
Pemberontakan petani Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda terjadi dalam beberapa tahap, yaitu pada 1850, 1888, dan 1926.
Perlawanan paling yang paling besar adalah pemberontakan petani Banten pada 9 Juli 1888, atau disebut dengan Geger Cilegon 1888.

Latar belakang Geger Cilegon 1888 Antara 1882 dan 1884, rakyat Serang dan Anyer telah ditimpa dua malapetaka, yaitu kelaparan dan penyakit sampar (pes) binatang ternak.
Hal itu disebabkan oleh musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan tanaman tidak tumbuh dan munculnya wabah pes.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah kolonial menginstruksikan untuk membunuh semua ternak, termasuk binatang yang tidak terkena penyakit.

Akibatnya, muncul kebencian rakyat terhadap pemerintah Belanda yang dianggap telah melakukan kekejian dan kesewenang-wenangan. Sebab, bagi petani binatang ternak juga dianggap sebagai teman yang membantu pekerjaan mereka di sawah. Karena jumlahnya sangat banyak, tidak semua ternak dapat dikubur, sehingga bangkainya ditemukan dimana-mana dan mengundang penyakit baru bagi rakyat.

Sebanyak 120.000 orang lebih tercatat telah terkena penyakit dan 40.000 di antaranya meninggal dunia.

Rakyat pun semakin sengsara saat Gunung Krakatau meletus pada 1883 dan menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter.
Gelombang yang menghancurkan Anyer, Merak, dan Caringin tersebut merenggut kurang lebih 22.000 jiwa. Musibah yang datang bertubi-tubi masih diperburuk oleh pemerintah kolonial yang melaksanakan sistem perpajakan yang baru.
Berbagai pajak dikenakan kepada penduduk, yaitu pajak tanah pertanian, pajak perdagangan, pajak perahu, pajak pasar, dan pajak jiwa, yang besarnya di luar kemampuan penduduk.
Di tambah lagi, kecurangan pegawai pemungut pajak membuat rakyat semakin resah dan membeci penjajah.
Persiapan Geger Cilegon 1888 Sejak bulan Februari hingga April 1888, para ulama dari Serang, Banten, dan Tangerang mulai mengadakan pertemuan. Mereka adalah Haji Marjuki, Haji Asnagari, Haji Iskak, Haji Wasid, dan Haji Ismail. Pertemuan tersebut membahas mengenai ketersediaan alat persenjataan, pembagian tugas, penggerak pengikut, serta pelatihan. Pada 7 Juli 1888, diadakan pertemuan para kiai untuk persiapan terakhir pemberontakan di rumah Haji Akhia di Jombang Wetan. Para kiai yang hadir adalah Haji Sa’is, Haji Sapiuddin, Haji Madani, Haji Halim, Haji Mahmud, Haji Iskak, Haji Muhammad Arsad, dan Haji Tubagus Kusen. Agar Belanda tidak curiga, pertemuan tersebut dilaksanakan pada suatu kenduri besar. Kemudian setelah lewat tengah malam, para kiai tersebut menghadiri pertemuan kedua di rumah Haji Iskak dan bertemu dengan Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail. Mereka memastikan bahwa pemberontakan akan dimulai pada 9 Juli 1888.

Senin malam, 9 Juli 1888, serangan umum terhadap para pejabat pemerintah kolonial di Cilegon dimulai. Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman memimpin serangan dari arah selatan, sementara Haji Wasid, Haji Usman, Haji Abdul Gani, dan Haji Nuriman menyerang dari utara. Pasukan dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan tugas masing-masing. Ada yang menyerbu penjara untuk membebaskan para tahanan, ada yang menyerbu kepatihan, dan ada yang menyerang rumah asisten residen. Dalam keadaan yang sangat kacau tersebut, beberapa orang yang tidak disenangi rakyat berhasil ditumpas.

Mereka adalah Henri Francois Dumas (juru tulis asisten residen), Raden Purwadiningrat (ajun kolektor), Johan Hendrik Hubert Gubbels (asisten residen Anyer), Mas Kramadireja (sipir penjaga Cilegon), dan Ulri Bachet (kepala penjualan garam).

Kekacauan ini tidak dapat diatasi oleh Belanda dan Cilegon dapat dikuasai oleh para pemberontak. Namun, seorang pembantu rumah tangga Gubbels berhasil melarikan diri ke Serang dan melaporkan kejadian itu. Menanggapi hal itu, Letnan I Bartlemy berangkat ke Cilegon bersama 40 serdadu untuk memadamkan pemberontakan. Pada akhirnya, Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung, sedangkan 94 pemimpin perlawanan lainnya diasingkan.   (Dikutip dari beberapa sumber. Ira-s)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*