*Herawati dan keluarga, Kondisi Rumah yang tak layak huni*
KABUPATEN SERANG_CBB.COM
Di balik hiruk pikuk pembangunan, masih ada kisah pilu yang luput dari perhatian. Herniawati, seorang anak yatim piatu yang tinggal di Kampung Sanding RT 01/RW 01, Desa Sanding, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, menjalani hidup dalam serba keterbatasan. Bertahun-tahun ia berharap mendapat perhatian dari pemerintah, namun hingga kini harapan itu belum juga menjadi kenyataan.
Setiap hari Herniawati bekerja sebagai buruh cuci di sebuah pondok pesantren dengan penghasilan yang tidak menentu. Upah yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Untuk membangun rumah atau memiliki tempat tinggal yang layak, itu menjadi impian yang terasa sangat jauh.

*Kondisi Rumah yang tak layak huni*
Ironisnya, selama bertahun-tahun Herniawati mengaku belum pernah menerima bantuan apa pun. Padahal, kondisi ekonominya sangat memprihatinkan dan ia hidup tanpa orang tua yang dapat menjadi tempat bergantung.
“Jangankan untuk membangun rumah, untuk makan sehari-hari saja kami masih kesulitan,” ungkap seorang warga sekitar saat diwawancarai awak media.
Saat ini Herniawati masih tinggal di rumah kontrakan dengan biaya sewa sekitar Rp300 ribu per bulan. Kondisi tempat tinggal yang ditempati pun dinilai tidak layak dan memprihatinkan. Dengan penghasilan yang pas-pasan, ia hanya bisa bertahan sambil berharap ada kepedulian dari pemerintah.
Fatmawati, adik Herniawati, mengatakan kakaknya sudah lama mendambakan bantuan rumah layak huni maupun bentuk bantuan sosial lainnya. Namun hingga sekarang, harapan tersebut belum juga terwujud.
“Kami berharap kepada Kepala Desa Sanding, Pemerintah Kecamatan Petir, Pemerintah Kabupaten Serang melalui dinas terkait, hingga pemerintah yang lebih tinggi agar bisa melihat kondisi kakak kami. Kami hanya ingin bisa hidup dengan layak dan mempunyai tempat tinggal yang aman,” ujar Fatmawati.
Ia mengaku sedih melihat kondisi sang kakak yang harus berjuang seorang diri menjalani hidup dengan segala keterbatasan. Sebagai anak yatim piatu, Herniawati hanya mengandalkan tenaganya sebagai buruh cuci untuk bertahan hidup.
Rumah yang ditempati saat ini dinilai sudah tidak memberikan rasa aman. Kekhawatiran akan kondisi bangunan yang semakin memprihatinkan terus menghantui keluarga setiap hari.
“Kami hanya berharap ada perhatian dari pemerintah. Rumah kami sudah hampir tidak layak dihuni. Kami ingin memiliki tempat tinggal yang aman dan layak seperti masyarakat lainnya,” tutur Fatmawati dengan mata berkaca-kaca.
Kisah Herniawati menjadi potret bahwa masih ada masyarakat kecil yang membutuhkan uluran tangan dan kehadiran negara. Di tengah berbagai program bantuan sosial dan pembangunan yang terus digulirkan, keluarga ini berharap pemerintah desa, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat dapat turun langsung melihat kondisi mereka.
Harapan mereka sederhana: bukan meminta kemewahan, melainkan kesempatan untuk hidup lebih layak, memiliki rumah yang aman, serta merasakan perhatian dari pemerintah yang selama ini mereka nantikan.
Semoga kisah ini dapat mengetuk hati semua pihak yang memiliki kewenangan maupun masyarakat yang memiliki kepedulian. Sebab, setiap warga negara berhak memperoleh kehidupan yang layak dan merasakan hadirnya negara di saat mereka benar-benar membutuhkan.
Editor_Yoso

Leave a Reply