Reportase : Sukron. (Amsterdam, Belanda).
Pemimpin Redaksi : Hairuzaman.
Kemarin saya ke museum terbesar di Belanda. Diibantu sama orang yang punya akses VVIP, jadi gak perlu antre dan dapat spesial guide. Berjam-jam hanya dapat 2 lantai..Menarik sekali koleksi-koleksi di sini. Setelah dari museum, saya diajak untuk mengenal Belanda secara keseluruhan dari sky view..
Saya bisa merasakan bagaimana naik helikopter yang jelajahnya wow dari atas dataran rendah maupun tinggi.. Di atas laut dan memotret hewan-hewan liar seperti kuda dan sebagainya. Padang rumput, sungai dan kanal, kastil-kastil megah, bendungan, pemukiman,.kincir angin dari ujung ke ujung.
Lanjut, melihat kota Amsterdam dari bawah, menyusurinya menggunakan boat. Kami bersama para VIP dari Perancis,.juga rombongan OKB dari Indonesia.. Ketika salah satu dari mereka, disapa oleh kawan ku, ia sama sekali tak bergeming. Istrinya juga cuek bebek. Padahal kawan ku ini, hanya berusaha ramah dengan sesama orang Indonesia..
Saat saya lihat pakaian istrinya, memang branded, tapi tidak seharusnya sombong. Sebab, di atas langit ada langit. Bebas juga sih, asal kalau terpleset di kanal, bangun sendiri. Pengalaman yang tak terlupakan, bisa melihat Belanda dari atas langit, darat dan air.
Melihat sesuatu dari sudut yang berbeda, hasil dan pengalamannya juga berbeda. Tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata. Setelah makan siang di resto Turki di Central Station, kami mellanjutkan perjalanan ke Arena, stadium bola milik Ajax (kendati saya ini penggemar MU) Sekalian mampir ke Decathlon, toko sport Perancis, sekadar beli tas kecil untuk bocah di rumah.
Pulang dari sana, diajak mampir ke rumah sahabatnya kawanku, yang katanya adalah orang Yahudi. Ini Yahudi yang baik, dia yang menyelamatkan praktik perbudakan yang pernah dialami oleh sebagian orang Indonesia di sini. Bahkan, kawan ku ini di sekolahkan sampai lulus dan bisa mandiri.
Ketija saya mampir ke rumahnya, dibolehkan numpang shalat. Dia sangat ramah. Saya diajak ngobrol cukup lama. Ruangannya klasik, penuh motif dan warna kayu. Saya suka dengan perpustakaan pribadinya. Saya tak bisa ngobrol lebih lama di sini…Karena ada orang Indonesia, pemilik warung, sudah mengundangku untuk menikmati hidangan khas Nusantara yang cocok dengan lidahku Ini juga super baik orangnya. Beliau yang selama Ramadhan selalu menjadi sponsor untuk masjid Indonesia.
Ketika saya datang, bakso, combro dan yang lainnya sudah tersedia dan langsung dihidangkan sebagai makanan pembuka. Cocok dan pas banget. Karena udara lagi dingin banget. Salah satu karyawannya, mahasiswi S2 salah satu kampus di Amsterdam terbilang cantik berwajah oriental, sipit dan berkulit putih. Orangnya pun ramah.
Saya tanya, dia bilang dari Jakarta..Terlihat ulet dan smart. Sebelumnya, saya dengar obrolannya dengan salah satu pengunjung, yang sepertinya dosen/pejabat kementerian yang sedang kunjungan ke Eropa.
Mahasiswi ini, sering ikut program seminar internasional dan beberapa kali dapat grants…Nah, bathinku berucap, “You boleh pintar, tapi gak ada salahnya kerja part time…..” Bisa buat beli skin care, atau jalan-jalan ke Swiss bertemu Federer. Tapi saya lihat, dia sepertinya, gak pakai make up….No make up is make up, maybe.**

Leave a Reply