*Kisah Anak Desa Bermodal Rp70 Ribu Tembus Forum Akademik di UI dan Mendapat Beasiswa dari Kapolri*
CBB.COM_JAKARTA
Kisah perjuangan Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), menjadi sorotan menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Berangkat dari desa dengan modal awal hanya Rp70 ribu, Ja’far mampu menempuh pendidikan sambil bekerja dan mengembangkan berbagai kegiatan sosial serta riset yang dituangkan dalam buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia.” Buku setebal lebih dari 400 halaman itu baru-baru ini diluncurkan dan dibedah dalam sebuah seminar dan talkshow di Aula G FKM Universitas Indonesia (UI).

Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat dari berbagai latar belakang. Penyelenggara menyebut sekitar 500 peserta hadir secara luring dan sekitar 1.500 peserta mengikuti secara daring.
Acara tersebut didukung sejumlah institusi, di antaranya Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta FKM UI.

Dalam keterangannya kepada awak media, Minggu (16/8/2026), Ja’far mengatakan peluncuran buku tersebut menjadi momentum penting dalam perjalanan akademik dan pengabdian yang selama ini dijalaninya.
“Peluncuran ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Ja’far.
Dari Desa, Merantau Bermodal Rp70 Ribu
Kisah Ja’far bermula dari kehidupannya sebagai anak yatim yang tumbuh di wilayah pedesaan Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.
Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, ia memutuskan merantau untuk mengejar pendidikan. Modal yang dibawanya ketika memulai perjalanan disebut hanya sekitar Rp70 ribu.
Untuk bertahan hidup sekaligus membiayai pendidikan, Ja’far menjalani berbagai aktivitas usaha, termasuk berjualan roti.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian penting dari buku yang ditulisnya. Perjalanan hidup, pengalaman lapangan, pendidikan, hingga proses mengembangkan inovasi dirangkai dengan sejumlah teori dan referensi ilmiah.
Buku itu disebut menggunakan lebih dari 200 referensi lintas disiplin, dengan pembahasan yang mencakup kesehatan masyarakat, psikologi, pengembangan manusia, inovasi, kepemimpinan, hingga manajemen.
Beasiswa Kapolri Jadi Amanah
Ja’far juga mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan pendidikan yang diterimanya melalui Program Beasiswa Kapolri.

Menurut dia, kesempatan tersebut bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan amanah yang harus dibalas melalui prestasi, karya, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat diakses oleh masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan,” katanya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk melanjutkan pendidikan di USU.
Ja’far menegaskan, dukungan tersebut semakin mendorong dirinya untuk mengembangkan penelitian dan kegiatan sosial yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Launching Buku Dihadiri Perwakilan Polri
Dalam rangkaian kegiatan peluncuran dan bedah buku tersebut, sambutan Kapolri disampaikan melalui perwakilan pimpinan Polri.
Acara disebut dibuka oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. Sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.
Dalam sambutan tersebut, karya Ja’far dipandang sebagai gambaran bahwa latar belakang ekonomi bukan satu-satunya penentu keberhasilan seseorang. Ketekunan, disiplin, integritas, dan kepedulian sosial dinilai menjadi faktor penting dalam membangun prestasi.
Guru Besar UI Soroti Nilai Akademik
Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., turut memberikan penilaian terhadap karya tersebut.
Menurutnya, buku Ja’far menarik karena menghubungkan pengalaman hidup penulis dengan berbagai perspektif akademik yang relevan dengan kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.
Dalam forum tersebut, karya Ja’far juga disebut telah menjadi bahan diskusi akademik dan mendapat perhatian dari kalangan akademisi.
Bahkan, muncul dorongan agar Ja’far terus mengembangkan kapasitas akademiknya hingga jenjang doktoral.
Perjalanan Hidup Dibaca dari Perspektif Psikologi
Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, melihat perjalanan Ja’far dari perspektif psikologi perkembangan dan resiliensi.
Kehilangan orang tua, kemiskinan, pengalaman merantau, hingga perjuangan berjualan roti dipandang sebagai pengalaman yang membentuk karakter dan daya juang.
Dengan demikian, perjalanan hidup tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai kisah motivasi, tetapi juga dikaji melalui berbagai konsep akademik yang berkaitan dengan perkembangan manusia dan ketangguhan menghadapi tekanan kehidupan.
Sementara itu, Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., menyebut perjuangan tersebut sebagai sesuatu yang membanggakan bagi keluarga dan almamater.
Karya Dikaitkan dengan Inovasi Biofar SS
Salah satu bagian utama buku tersebut adalah perjalanan Ja’far dalam mengembangkan inovasi yang disebut Biofar SS.
Ja’far menceritakan proses panjang yang dilaluinya melalui pengalaman lapangan, penelitian, pengujian, serta aktivitas sosial di masyarakat.
Ia juga selama bertahun-tahun menjalankan kegiatan sosial berupa bantuan dan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Namun, berbagai klaim mengenai manfaat atau efektivitas inovasi kesehatan tersebut tetap perlu ditempatkan dalam kerangka penelitian, pengujian, dan ketentuan ilmiah serta regulasi kesehatan yang berlaku.
Apresiasi dari Dalam dan Luar Negeri
Perhatian terhadap buku tersebut tidak hanya datang dari lingkungan akademik di Indonesia.
Ja’far mengungkapkan bahwa sejumlah pembaca dari luar negeri mulai memberikan respons terhadap karyanya. Salah satu komentar yang diterimanya berbunyi:
“Your book looks interesting! I’d love to introduce it to my reading community.”
Apresiasi tersebut menurut Ja’far menjadi motivasi untuk terus memperkenalkan kisah perjuangan dan karya anak bangsa kepada masyarakat yang lebih luas.
Di tingkat nasional, buku tersebut juga disebut mendapatkan perhatian dalam rangkaian kegiatan literasi dan diskusi akademik.
Momentum Kemerdekaan
Kisah Ja’far menjadi semakin menarik karena muncul menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati pada Senin, 17 Agustus 2026.
Momentum kemerdekaan seolah memberikan konteks tersendiri terhadap perjalanan seorang anak desa yang berusaha mengubah keterbatasan menjadi kesempatan melalui pendidikan.
Bagi Ja’far, kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kesempatan bagi setiap anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan, mengembangkan potensi, berkarya, dan memberikan manfaat bagi sesama.
“Kepercayaan besar yang diberikan negara ini tidak pernah saya sia-siakan. Segala ilmu yang saya pelajari ingin saya wujudkan dalam karya dan inovasi yang dapat bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Perjalanan dari sebuah desa dengan modal Rp70 ribu menuju ruang akademik di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia menjadi bagian paling kuat dari kisah tersebut.
Di tengah perayaan kemerdekaan, kisah Ja’far menghadirkan pesan sederhana: keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi akhir dari sebuah cita-cita. Pendidikan, kerja keras, dan kesempatan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan sekaligus melahirkan kontribusi bagi bangsa.
Editor_Hambali

Leave a Reply