Warga Sukaresmi Pandeglang Minta Pemerintah Tinjau Ulang Kelayakan Dapur MBG Karyasari Dan Cibubungur

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82?

PANDEGLANG – CBB.COM

Perwakilan warga dari sejumlah desa di Kecamatan Sukaresmi berharap kepada tim pengawas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat hingga daerah, turun langsung kelapangan dimulai dari dapur penyedia, pendistribusian sampai ke penerima mamfaat, yaitu anak-anak sekolah, pelajar, guna melakukan pengecekan real(nyata) terhadap MBG yang telah berjalan di wilayah. Harap perwakilan tersebut, Senin (20/10-2025).

Menurutnya; Langkah ini dapat memastikan bahwa penyelenggaraan program MBG akan berjalan sesuai dengan standar kelayakan, kebersihan, dan mutu gizi yang telah ditetapkan pemerintah. ungkapnya.

Diantara perwakilan warga tersebut salah satu diantaranya, Andi Irawan, warga Desa Sidamukti, menyampaikan bahwa ditengah bergulirnya MBG ke sekolah beberapa orang tua siswa mengeluhkan kondisi makanan yang disajikan.

“Ada menu yang diterima anak-anak dalam keadaan basi” hal ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Oleh karena itu ujarnya, pengawasan langsung dari pihak terkait sangat dibutuhkan agar kualitas program ini tetap terjaga dengan baik. urainya.

Pernyataan serupa disampaikan Yoki Fardiansah, warga Desa Perdana, menyoroti monotonnya varian menu serta kandungan gizinya.

“Ada anak-anak, bahkan belum sempat mencicipi makanannya karena orang tua mereka ragu akibat kabar-kabar kurang sedap, bahkan menunya yang itu-itu saja menimbulkan pertanyaan apakah sudah memenuhi standar gizi anak usia sekolah.” kata Yoki.

Selanjutnya, Jaka Somantri dari Desa Seuseupan menyoroti aspek kebersihan dan sanitasi dapur. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan dapur yang menurutnya perlu dievaluasi.

“Pemeriksaan menyeluruh oleh tim kelayakan sangat penting. Bukan hanya soal rasa atau tampilan makanan, tapi bagaimana makanan itu disiapkan, termasuk sanitasi dan peralatan yang digunakan,” jelasnya.

Semikian halnya, Agung Satria, warga Desa Cibubungur, menyoroti persoalan lain yang menyangkut relasi antara dapur MBG dan pedagang lokal. Dia menuturkan bahwa seorang pedagang beras setempat mengalami kerugian setelah sebagian besar beras yang telah dikirim justru dikembalikan tanpa kejelasan.

“Dari satu ton beras yang dipesan, hanya dibayar 5 kuintal, sisanya dikembalikan dengan alasan yang tak masuk akal. Bahkan kondisi beras saat dikembalikan sudah berpindah tempat karena disimpan di gudang lain”. ungkap Agung.

Dari berbagai masukan ini, sudah sepatutnya pengawasan terhadap dapur MBG tidak hanya dilakukan secara administratif, tetapi semestinyalah dilakukan peninjauan langsung ke lapangan. Karena hal ini dinilai penting untuk menjamin bahwa program MBG, yang memiliki tujuan mulia dalam meningkatkan gizi bagi anak-anak sekolah, dapat berjalan secara optimal dan bertanggung jawab.

Untuk sekedar diketahui informasi ini ditayangkan beberapa media lokal maupun nasional , belum ada pernyataan resmi dari pengelola dapur MBG maupun instansi terkait. Namun demikian prinsip praduga tak bersalah tetap dijunjung tinggi, dan seluruh pihak diminta untuk bersikap terbuka dalam proses evaluasi demi perbaikan berkelanjutan program ini”. (tim/red).

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*